-->

menu

Sabtu, 15 Juni 2013

penembak runduk

Penembak runduk
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Artikel ini membutuhkan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian.
Silakan bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan catatan kaki dari sumber yang terpercaya.


Membidik menggunakan teleskop senapan runduk.
Sniper, atau penembak runduk, adalah seorang prajurit infanteri yang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan.
Istilah ini muncul pada tahun 1770-an, pada prajurit-prajurit Kolonial Inggris di India, dari kata snipe, yaitu sejenis burung yang sangat sulit untuk didekati dan ditembak. Mereka-mereka yang mahir memburu burung ini diberi julukan "sniper".[1]
Dalam beberapa dekade terakhir istilah sniper telah digunakan secara meluas dan tidak tepat, terutama oleh media. Istilah sniper, secara tidak tepat, digunakan untuk mendeskripsikan pelaku kriminal yang membunuh dengan menggunakan senapan laras panjang.
Daftar isi  [sembunyikan]
1 Sniper dalam peperangan
2 Sniper kepolisian
3 Perbandingan antara penembak runduk dengan penembak jitu
4 Peralatan
4.1 Senapan runduk
4.2 Kamuflase
5 Referensi
6 Lihat pula
Sniper dalam peperangan [sunting]



Sniper bersama dengan spotter.
Doktrin militer tentang sniper dalam posisinya pada unit militer, lokasi menembak, dan taktik berbeda pada setiap negara. Secara umum, tujuan sniper dalam peperangan adalah mengurangi kemampuan tempur musuh dengan cara membunuh sasaran yang bernilai tinggi, seperti perwira.
Dalam doktrin Amerika Serikat, Inggris, dan banyak negara lainnya , sniper dipakai dalam tim sniper, yang berisi hanya dua orang. Dua orang ini mempunyai fungsi yang berbeda, satu sebagai penembak, dan satu orang lagi sebagai spotter yaitu penunjuk sasaran. Dalam prakteknya, spotter dan penembak biasa bergiliran menembak, agar mengurangi kelelahan pada mata.
Misi sniper adalah pengintaian dan pengamatan, anti-sniper, membunuh komandan musuh, memilih target sendiri secara oportunis, dan bahkan tugas anti material (penghancuran peralatan militer), yang memerlukan senapan berkaliber besar seperti .50 BMG. Pada perang di Iraq, sniper semakin banyak digunakan sebagai peran pendukung, yaitu untuk melindungi pergerakan infanteri, khususnya di daerah perkotaan.
Sniper kepolisian [sunting]



Seorang sniper polisi.
Polisi biasanya menurunkan sniper dalam penanganan skenario penyanderaan. Mereka dilatih untuk menembak sebagai pilihan terakhir, hanya jika nyawa sandera terancam langsung. Sniper polisi biasanya beroperasi dalam jarak yang lebih dekat dari pada sniper militer. Biasanya di bawah 100 meter dan bahkan kadang kadang kurang dari 50 meter. Karena inilah sniper polisi lebih tepat disebut sebagai penembak jitu. Sniper polisi lebih terlatih menembak untuk melumpuhkan daripada membunuh,[2] dikarenakan peran polisi sebagai pengayom masyarakat.
Perbandingan antara penembak runduk dengan penembak jitu [sunting]

Beberapa doktrin membedakan antara penembak runduk (sniper) dengan penembak jitu (marksman, sharpshooter, atau designated marksman). Sniper terlatih sebagai ahli stealth dan kamuflase, sedangkan penembak jitu tidak. Sniper merupakan bagian terpisah dari regu infanteri, yang juga berfungsi sebagai pengintai dan memberikan informasi lapangan yang sangat berharga, sniper juga memiliki efek psikologis terhadap musuh. Sedangkan peran penembak jitu intinya adalah untuk memperpanjang jarak jangkauan pada tingkat regu.


Seorang sniper mengokang senapan runduk bolt-action.
Sniper pada umumnya menggunakan senapan runduk bolt-action khusus, sedangkan penembak jitu menggunakan senapan semi-otomatis, yang biasanya berupa senapan tempur atau senapan serbu yang dimodifikasi dan ditambah teleskop.
Sniper telah mendapatkan pelatihan khusus untuk menguasai teknik bersembunyi, pemakaian kamuflase, keahlian pengintaian dan pengamatan, serta kemampuan infiltrasi garis depan. Ini membuat sniper memiliki peran strategis yang tidak dimiliki penembak jitu. Penembak jitu dipasang pada tingkat regu, sedangkan sniper pada tingkat batalion dan tingkat kompi.
Peralatan [sunting]

Senapan runduk [sunting]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Senapan runduk


Senapan runduk standar Marinir Amerika Serikat, M40.
Kebanyakan senapan runduk sampai era Perang Dunia II dibuat berdasarkan senapan standar di negara bersangkutan. Termasuk diantaranya senapan K98k Mauser dari Jerman, Springfield 1903 dan M1 Garand dari Amerika Serikat, Mosin-Nagant dari Soviet, Arisaka dari Jepang, dan Lee Enfield No. 4 dari Inggris. Senapan-senapan ini dimodifikasi dengan ditambahkan laras khusus, alat bidik teleskop, bipod, bantalan pipi, penyembunyi kilatan, dan lain-lain.
Senapan-senapan yang dibuat khusus sebagai senapan runduk baru dimulai pada tahun 1960an. Tujuannya adalah untuk meningkatkan akurasi sebaik mungkin. Senapan-senapan ini dibuat khusus untuk bisa menahan panas, menahan getaran, dan hal-hal lain yang bisa mengurangi akurasi.
Kamuflase [sunting]


Sniper yang menggunakan kamuflase.
Sniper menggunakan kamuflase dan membatasi gerakan mereka, agar tidak bisa dideteksi.
Bidikan teleskopik harus mendapatkan perhatian khusus, karena lensa dari alat bidik harus terbuka, tapi dalam keadaan terbuka akan dapat memantulkan cahaya matahari, dan ini bisa membeberkan posisi sniper. Solusi yang biasa digunakan adalah mencari tempat bersembunyi yang tidak terkena cahaya matahari langsung, atau dengan menutupi lensa dengan sesuatu yang tidak memantulkan cahaya, seperti sebuah kain tipis.
Sniper modern juga harus memperhatikan kamuflase mereka jika dilihat dengan cahaya infra-merah, karena militer modern sudah menggunakan penglihatan suhu (thermal vision), menggantikan night vision, yang hanya meningkatkan intensitas cahaya. Bahan pakaian dan peralatan bisa muncul bila dilihat dengan alat thermal vision. Maka sniper juga bisa memakai bahan lain seperti plastik, atau bahan khusus seperti selimut thermal, atau bahan lain yang tidak terdeteksi oleh thermal vision.

Sejarah sniper

Sinopsis
Semboyannya yang terkenal; One Shot, One Kill (Satu Tembakan, Satu Terbunuh). Satu peluru Satu Serdadu. Satu tarikan pelatuksenapan, satu nyawa lawan harus berpulang nama. Begitulah hukum wajib Sniper. Tidak ada peluru yang terbuang. Tidak ada kamus meleset, karena itu pertanda kegagalan. Laksanakan tugas, lalu menghilang bak ditelan angin.
Sesuatu yang bersifat tersembunyi atau tersamar (Undercover), selalu selalu menarik untuk diungkap. Sniper atau penembak runduk adalah salah satu diantaranya. Sniper, atau penembak runduk adalah seorang prajurit infanteriyang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan.
Istilah ini muncul pada tahun 1770-an, pada prajurit Kolonial inggris di india, dan kata Snipe, yaitu sejenis burung yang sulit didekati dan ditembak. Mereka-mereka yang mahir memburu burung ini diberi julukan “Sniper”.
Dalam buku ini anda bisa membaca kisah sniper legendaris seluruh dunia dari masa ke masa, taktik dan strategi, teknik kamuflase,hingga jenis-jenis senjata yang dipakai. Buku ini akan menarik bagi anda yang tertarik dengan dunia penyamaran(undercover), kisah-kisah dibawah tanah, hingga peminat strategi dan taktik mengalahkan lawan.
(Kembali Ke Atas)

ikan gabus

Sore menjelang petang setiap harinya, bertempat di atas jembatan Kali Asin Kelurahan Tanjung Mas Semarang, persisnya di ruas jalan arteri Yos Sudarso, terlihat banyak para pemburu ikan.

Mereka bukan memancing atau menjaring sebagaimana lazimnya, tapi menembak ikan-ikan itu dengan menggunakan senapan angin. Para pemburu ikan ini menamakan dirinya sebagai "Semarang Fish Sniper" karena memang hobinya menembak ikan-ikan.

Ikan-ikan itu berasal dari payau-payau tak jauh dari Kali Asin, antara lain ikan blanak, gabus, nila, mujahir, bahkan bawal dan lele. Para sniper ini menunggu dengan sabar ikan-ikan yang berkelebat atau muncul di permukaan air.

Peralatan yang dipakai hanya senapan angin yang telah dimodifikasi dengan tambahan senar dan jarum paku. Cara membidiknya cukup sederhana, begitu ikan berkelebat, ditariklah pemicu dan melesat pula jarum ke ikan sasaran.

Para sniper biasanya menunggu saat air pasang, ketika ikan-ikan terseret arus air laut. Para pemburu menengarai ikan dalam keadaan mabuk, karena biasanya ikan-ikan itu hidup di payau yang tawar. Tapi begitu terkena air laut yang mengandung garam, ikan-ikan lalu menjadi lunglai.

Jika musim air surut, yang mereka dapatkan adalah ikan blanak kecil-kecil. Tapi jika musim pasang, ikan-ikan besar pernah ditembaknya. Jumanto, salah seorang sniper bahkan pernah menangkap lele dengan berat 15 kg dan Sumarno menangkap kakap dengan barat 7 kg.

Anehnya, para pemburu ikan ini hanya sebagai hobi saja, bukan pekerjaan utama. Dengan mendapatkan satu ekor ikan saja, rasanya bangga dan bahagia.

sniper kutuk

'Sniper', Tembak Ikan Kutuk di Sungai Sayung
Penulis : Ari WidodoMinggu, 11 Maret 2012 | 11:34 WIB

Saiful Badowi (22), warga Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Demak, salah satu pemburu ikan kutuk, menunggu sasaran dari atas jembatan, dan siap membidiknya, Minggu (11/3/2012) | KOMPAS.com/ ARI WIDODO
 
DEMAK, KOMPAS.com - Bagi Anda yang bepergian melalui jalur Pantura Demak, di sepanjang Sungai Sayung hingga Buyaran, akan dijumpai para lelaki yang menunggu mangsa dengan senjata laras panjang. Ada yang bersembunyi di atas pohon, di pinggir sungai, atau nongkrong di atas jembatan. Layaknya seorang penembak jitu atau sniper, mereka siap membidik sasaran.Targetnya bukanlah manusia, melainkan hewan air sejenis ikan gabus yang oleh masyarakat Demak dikenal sebagai ikan kutuk.

Dengan bersenjatakan senapan angin yang telah dimodifikasi sedemikian rupa, mereka siap menjadi pemburu handal. Peluru yang digunakan pun hasil inovasi, yang terbuat dari jeruji sepeda motor, yang diruncingkan pada bagian ujungnya. Lalu, mata peluru itu dikaitkan dengan senar pancing, sehingga dapat melesat seperti anak panah ketika ditembakkan. Jika tembakan mereka meleset dari sasaran, maka "peluru " tersebut tidak akan terbuang sia- sia, sebab dapat digulung dan digunakan lagi dengan cara memompa senapan.

Hari (42), warga Desa Mranak Kecamatan Wonosalam Demak, saat ditemui, Minggu (11/3/2012) mengaku, sudah tiga tahun ini dia berburu ikan kutuk. Menurut bapak dua anak itu, berburu ikan kutuk membutuhkan kesabaran, karena harus menunggu ikan air tawar itu muncul dari permukaan sungai. Paling tidak harus menunggu 10 sampai 30 menit.

Jika beruntung, maka dalam sehari pria penganguran itu bisa mendapatkan ikan kutuk 4 sampai 5 kilogram. Hasil buruan itupun kemudian dijual kepada para pelanggan yang rata-rata pemilik warung makan atau ibu rumah tangga. Satu kilogram harganya Rp 18.000, dan berisi dua ekor untuk ukuran besar, atau 4-5 ekor untuk ukuran sedang. "Awalnya baru saya saja yang menggelutinya, sekarang pemburu kutuk sudah banyak. Sejak tiga tahun ini, keluarga saya hidup dari hasil berburu kutuk," kata Hari.

Pada hari-hari kerja, para pemburu kutuk hanya beberapa orang saja. Namun pada saat musim libur atau hari minggu jumlahnya bisa mencapai puluhan orang, apalagi para pemburu asal Kudus dan Jepara juga ikut berburu kutuk sampai ke Demak.

Senada dengan Hari, Saiful Badowi (22), warga Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah Demak, berburu kutuk harus sabar dan telaten. Buruh bangunan itu mengaku sudah tiga bulan berburu kutuk untuk sekadar menyalurkan hobi menembak. "Menembak kutuk itu hobi yang membawa hoki. Lumayan hasilnya bisa buat beli rokok," ujarnya.

Ikan kutuk mudah dijumpai pukul enam pagi atau pukul tiga sore. Di jam-jam tersebut ikan kutuk sering muncul di permukaan sungai untuk mencari makan. Hasil buruannya tidak perlu repot-repot dijual ke pasar, sebab biasanya sudah ada yang menunggu untuk membelinya. Apalagi kalau di pasar harga ikan kutuk bisa mencapai Rp 20.000 per kilogramnya.

Ikan kutuk terbilang lezat, karena dagingnya lembut dan gurih. Selain digoreng, ikan kutuk dapat dimasak semur kutuk, menemani nasi dan sambal terasi.

sniper pemanah

Ikan Pemanah Sang Sniper Bawah Air
Posted by Wong agung, April 16, 20134 comments
segala ciptaan Alllah SWT sudah pasti penuh dengan hikmah dan keagungan. Daan ciptaan ini akan menghantarkan kita untuk memahami betapa agung dan sempurnyanya Dzat Yang Menciptakan, Allah SWT .
Ikan Pemanah, predator bawah air, pemangsa buruan yang hidup diatas permukaan air. Dia mampu mengatur strategi untuk melumpuhkan dan menjangkau mangsanya. Bagaimana cerita ajaibnya? Simak pada artikel berikut.

Ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) atau disebut juga denganikan sumpit adalah ikan yang unik. Jika biasanya ikan mencari mangsa didalam air, ikan pemanah ini menarget mangsanyayang berada di darat, bahkan kadang di udara. Alhasil, serangga, capung, laba-laba, yang asyik berada di atas ikan ini silahkan bersiap untuk disantap.

PENEMBAK JITU BAWAH AIR

Karena mangsanya tidak berada di bawah air, ikan ini harus memiliki cara yang unik untuk melumpuhkannya. Tentu caranya bukan dengan memasang perangkap seperti laba-laba. Tidak pula berkamuflase seperti gurita dan binatang air lain. Tapi, sebagaimana namanya, ikan pemanah memiliki keahlian khusus layaknya seorang sniper atau penembak jitu.

Strategi yang digunakan ikan pemanah ialah menyemprotkan air melalui mulut untuk menghantam mangsanya. Memang air tidak akan melukai mangsa, dan memang bukan itu tujuan semprotannya. Semprotan air ini berguna menjatuhkan mangsa kedalam air. Ketika mangsa kelabakan di air, barulah si ikan yang merupakan penguasa air bergerak cepat menyambar mangsanya.

Ikan pemanah harus tepat dalam menyemprotkanair. Dia harus melumpuhkan mangsa dalam satu kali tembakan. Kalau tidak, mangsa yang diincarnya dipastikanterkejut, dan makanan pun gagal didapat.

Sekilas, mungkin  kemampuan ini biasa-biasa saja. Namun, kalau kita lihat dengan kaca mata fisika, penembakan air yang dilakukan ikan pemanah ini memerlukan perhitungan yang telti.
Air memiliki kerapatan yang berbeda dengan udara. Cahaya yang melewati dua medium yang berbeda kerapatannya akan dibiaskan. Hasilnya, benda yang berada di dalam medium lain jika kita mencelupkan setengah bagian pensil atau benda panjang lainnya kedalam air. Pensil atau benda tersebut akan kelihatan bengkok di bagian permukaan air. Inilah akibat dari pembiasan cahaya tersebut.

Nah, jika seorang snipper jarak jauh harus memperhitungkan jarak, kelembaban udara, kecepatan angin, dan lainnya, maka seekor ikan pemanah harus memperhitungkan pembiasan cahaya ini. Dia harus mengetahui dimana letak mangsa sesungguhnyauntuk bisa tepat mengenainya. Maka, Allah SWT pun memberinya kemampuan hebat ini tanpa melalui bangku sekolah. Memang, pembiasan cahaya tidak akan terjadi jika kita melihat tegak lurus (90°) dengan permukaan air. Tapi faktanya, sudut 40°, sudut yang cukup besar untuk memungkinkan terjadinya pembiasan cahaya.

Demikianlah kebesaran dan hebatnya ciptaan Allah SWT. Dialah yang telah mengatur segalanya dan menggiring rezeki untuk makhluk-Nya dengan cara yang luar biasa. Subhanallah.


Note: Sepmprotan air ini berguna untuk menjatuhkan mangsa dalam air. Ketika mangsa kelabakan di air, barulah si ikan yang merupakan penguasa air bergerak cepat menyambar mangsanya.

Tashfiyah
- See more at: http://wahyu-juniyanto.blogspot.com/2013/04/ikan-pemanah-sang-sniper-bawah-air.html#sthash.nx8mR8LX.dpuf

sniper burung

Rabu, 14 Maret 2012
Burung Snipe dan Sniper


Adalah burung snipe. Burung berbulu cokelat berbintik aneka warna ini memiliki bentuk sangat kecil, lincah, gesit, dan banyak ditemukan di rawa-rawa daratan Skotlandia serta Inggris. Saking lincahnya, burung ini sangat sukar untuk dijadikan sebagai sasaran tembak sehingga setiap orang yang dapat menembak jatuh burung snipe akan dianggap sebagai ahli menembak. Dengan demikian, perburuan terhadap burung ini merupakan sebuah ajang unjuk kehebatan menembak. Inilah awal mula dari kata sniper atau penembak jitu.
 
Pada akhir abad ke-18 ungkapan sniper sering disebut dalam surat-surat yang dikirim ke rumah oleh orang-orang Inggris yang bertugas di India. Pada abad ke-19, kata sniper digunakan secara umum untuk menyebut seseorang yang mahir dalam olah raga menembak. Istilah sniper juga dipakai untuk mendefinisikan seseorang yang mahir dalam melakukan pembunuhan dengan menggunakan senapan laras panjang. Dalam perkembangannya, kata sniper merujuk pada seorang prajurit tempur yang bertugas untuk membidik dan menumbangkan targetnya.
Dalam hal ini, tugas seorang prajurit sniper sangat berbeda dari prajurit infanteri lain. Pada masa Perang Dunia, sniper mengacu pada seseorang yang mampu menembak musuhnya dari jarak jauh. Ia, sang sniper, bersembunyi sedemikian rupa agar tidak diketahui posisinya hingga memudahkan tugasnya untuk membunuh musuh atau memukul mundur barisan musuh yang hendak melakukan penyerangan. Tentu saja, dalam menjalankan tugas seorang sniper membekali dirinya dengan senapan yang akurat dan perlengkapan lain yang memadai.

        Selain keahlian menembak, seorang sniper juga harus memiliki kemampuan menyamarkan diri sehingga posisinya tidak diketahui musuh. Tuntutan kerahasiaan ini merupakan konsekuensi logisdari tugasnya yang penuh risiko. Di sebuah medan pertempuran, sering kali seorang sniper diturunkan sendirian atau dalam kelompok berjumlah dua orang dan harus menyusup jauh hingga ke balik garis pertahanan musuh. Dalam kondisi semacam ini, kamuflase adalah hal penting karena selain untuk menjamin keberhasilan misi, kamuflase juga sangat berperan dalam menjamin nyawa prajurit sniper bersangkutan.

Kematangan ketenangan, kecermatan, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan emosi juga merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang sniper. Bagi para sniper, medan pertempuran bukanlah peristiwa kolektif. Bagi para sniper, pertempuran selalu merupakan peristiwa personal yang penuh dengan emosi. Dalam hal ini, keberanian saja tidak cukup karena terkadang seorang sniper menemukan dirinya harus membunuh musuh yang berada dalam posisi tidak berdaya. Lebih dari itu, seorang sniper juga dituntut untuk dapat membunuh musuh dengan santai, relaks, dan tanpa tekanan. Ia harus memilih target secara cermat dan harus mampu mengontrol kualitas emosinya sebab ia akan melihat wajah-wajah orang yang telah dibunuhnya. Ringkasnya, seorang sniper harus mempunyai kekuatan mental-psikologis yang memadai.
        Kisah Sersan Hathcock, seorang legenda di kalangan Marinir AS, barangkali dapat diajukan sebagai contoh menarik dari tekanan emosional-psikologis yang harus dihadapi para sniper di medan pertempuran. Dalam sebuah tugas di Vietnam, Hathcock terpaksa membunuh seorang anak kecil karena anak tersebut menyembunyikan senapan AK 47[1] di antara wadah bambu khas Vietnam yang biasanya digunakan sebagai penyimpan makanan. Ditengarai sebagai kurir, Hathcock dengan senapan M2HB[2] modifikasi menembak ban sepeda yang dikayuh anak kecil tersebut. Usai anak tersebut bangkit akibat terpelanting, Hathcock menghancurkan dada anak kecil tersebut dengan senapan modifikasinya dari jarak sejauh 2.286 meter.


              Tentu saja, emosi akan membekaskan kesan mendalam sepanjang kehidupan sang sniper. Bukan saja melihat wajah-wajah orang yang telah dibunuhnya, seperti Hathcock yang dengan kesadaran militernya membunuh seorang bocah Vietkong, namun terkadang para sniper juga harus bisa mengendalikan emosinya ketika menyaksikan mitra satu-satunya di medan pertempuran jatuh menjadi korban. Dalam keadaan semacam ini, bertindak gegabah untuk segera membalas dendam kematian kawan merupakan kesalahan fatal yang berakibat terungkapnya tempat persembunyian dan terbongkarnya penyamaran sehingga ia sendiri bisa terbunuh dan misinya gagal.

Namun demikian, tekanan psikologis seperti di atas masih ditambah dengan tudingan miring yang sering dialamatkan pada para sniper, bahkan tudingan ini diberikan bukan oleh musuh namun oleh rekan-rekan dari kesatuan lain. Sebagai seorang prajurit yang harus sering bersembunyi ketika menjalankan tugas, para sniper sering kali dianggap sebagai pengecut. Ini belum menghitung tudingan sebagai pembunuh yang sering dialamatkan pada prajurit sniper, bahkan dalam beberapa kata kerja snipping disamakan dengan kata “membunuh.” Tudingan dan terminologi semacam ini jelas tidak menguntungkan bagi para prajurit sniper profesional yang rela bekerja keras untuk membela bangsanya, bahkan terkadang harus mengorbankan jiwanya.